TUGAS 3

PENGANTAR BISNIS

 

Kelompok

Yang di susun oleh

NPM:20210942                         ANTON HARTO.K.

NPM:22210272                           EKA FRIYATNA.Y.

NPM:28210650                         YOGI PRASETYA.E.

KELAS

1EB01

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN AKUNTANSI

 

 

 

Kata Pengantar

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat  tuhan yang maha esa atas rahmat dan bimbingannya kami dapat menyusun makalah ini.

Makalah ini merupakan panduan dalam melaksanakan proses pembelajaran yang kami buat secara praktis dan sistematis serta di rancang sedemikian rupa sehingga dapat menumbuhkan proses pembelajaran yang mandiri, agar kreativitas dan pengusaan materi pelajaran dapat optimal sesuai dengan yang di harapkan.

Dengan adanya ringkasan pendalaman materi diharapkan dapat membantu pembaca untuk menguasai materi ini, makalah ini dapat digunakan untuk mengetahui tercapainya standarisasi kompetensi suatu materi oleh mahasiswa.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan senantiasa menjadi sahabat dalam proses belajar untuk meraih prestasi yang gemilang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Pembelian hak lisensi(franchising) dapat merupakan suatu keuntungan tersendiri karena adanya kerjasama antara si pembeli hak lisensi(franchisee)dengan pihak yang pihak yang hak lisensinya dibeli(franschisor).Dalam franchising terjadi hubungan bisnis yang berkesinambungan antara franchisee dan franchisor. Franchising merupakan suatu persatuan lisensi menurut hukum antara suatu pabrik(manufakturing) atau perusahaan yang menyelenggarakan,dengan penyalur(dealer) untuk melaksanakan kegiatan.Dengan franchising,perusahaan diselenggarakan seolah-olah menjadi bagian dari suatu rangkaian yang besar,lengkap dengan nama,produk merek dagang,dan prosedur penyelenggaraan standar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengertian Waralaba ( franchising)

Franchise sendiri berasal dari bahasa latin yakni francorum rex yang artinya “bebas dari ikatan”, yang mengacu pada kebebasan untuk memiliki hak usaha. Pengertian Franchising (Pewaralabaan) adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang atau jasa . Secara sederhana, benang merah waralaba adalah penjualan paket usaha komprehensif dan siap pakai yang mencakup merek dagang, material dan pengolaan manajemen. Oleh karena itu, pihak-pihak yang terlibat dalam franchising. Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah: Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

(pewaralabaan) terbagi atas 2 segmen yakni :

  • Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya. Franchisor sudah harus siap dengan perlengkapan operasi bisnis dan kinerja manajemen yang baik, menjamin kelangsungan usaha dan distribusi bahan baku untuk jangka panjang, serta menyediakan kelengkapan usaha sampai ke detail yang terkecil. Franchisor juga sudah harus menyediakan perhitungan keuntungan yang didapat, neraca keuangan yang mencakup BEP (Break Event Point) dan ROI (Return On Investment).
  • Franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba. Franchisee hanya menyediakan tempat usaha dan modal sejumlah tertentu bergantung pada jenis waralaba yang akan dibeli. Namun franchisee juga mempunyai kewajiban non-finansial yang sangat esensial yakni menjaga image produk waralaba. Franchisee mempunyai dua kewajiban finansial

1

  • yakni membayar franchise fee dan royalti fee. Franchise fee adalah jumlah yang harus dibayar sebagai imbalan atas pemberian hak intelektual pemberi waralaba, yang dibayar untuk satu kali (one time fee) di awal pembelian waralaba. Royalti fee adalah jumlah uang yang dibayarkan secara periodik yang merupakan persentase dari omzet penjualan. Nilai franchisee fee dan royalti fee ini sangat bervariatif, bergantung pada jenis waralaba.

Sejarah Waralaba (franchising)

Waralaba diperkenalkan pertama kali pada tahun 1850-an oleh Isaac Singer, pembuat mesin jahit Singer, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Walaupun usahanya tersebut gagal, namun dialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis waralaba ini di AS. Kemudian, caranya ini diikuti oleh pewaralaba lain yang lebih sukses, John S Pemberton, pendiri Coca ColaNamun, menurut sumber lain, yang mengikuti Singer kemudian bukanlah Coca Cola, melainkan sebuah industri otomotif AS, General Motors Industry ditahun 1898. Contoh lain di AS ialah sebuah sistem telegraf, yang telah dioperasikan oleh berbagai perusahaan jalan kereta api, tetapi dikendalikan oleh Western Union serta persetujuan eksklusif antar pabrikan mobil dengan dealer. Waralaba saat ini lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restauran cepat sajinya. Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerjasama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restauran modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo dan bahkan membangun desain sebagai pertukaran dengan suatu pembayaran. Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS. Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J. Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 60-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama, tidak berdasarkan SARA.

2

Jenis waralaba

Waralaba dapat dibagi menjadi dua:

  • Waralaba luar negeri/asing adalah waralaba yang berasal dari luar negeri, jenis waraaba ini cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi. Contohnya : McDonald’s, Kentucky Fried Chicken, Bread Talk, Starbucks, Pizza Hut, dll.
  • Waralaba dalam negeri adalah waralaba yang berasal dari dalam negeri, jenis wara laba ini juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.contoh wara laba local : Primagama, Alfamart, Martha Tilaar, Roti Buana, Edward Forrer, Bogasari Baking Center dan berbagai nama lainnya.

Tipe-tipe franchising (waralaba)

Dalam praktek pelaksanaannya, dapat dijumpai beberapa tipe franchising, yaitu :

  1. trade name franchising

dalam tipe ini franchisee memperoleh hak untuk memproduksi, sebagai contoh, PT. Great River memiliki hak untuk memproduksi pakaian dalam Triumph dengan lisensi dari jerman.

  1. Product distribution franchising

Dalam tipe ini, franchisee memperoleh hak untuk distribusi di wilayah tertentu, misalnya soft drink, cosmetics.

  1. pure franchising/ bisiness format

dalam tipe ini franchisee memperoleh hak sepenuhnya, mulai dari trademark, penjualan, peralatan, metode operasi, strategi pemasaran, bantuan manajemen dan teknik, pengendalian kualitas, dan lain-lain. Contohnya adalah restaurant, fash food, pendidikan, dan konsultan.

 

 

3

Keuntungan dan kerugian franchising

Keuntungan memasuki pasar internasional dengan bisnis franchising, adalah :

  • pengalaman dan factor sukses
  • bantuan keuangan dari franchising
  • brand nama dan reputasi
  • bisnis sudah terbangun
  • terdapat standar mutu
  • biaya produksi rendah
  • kesiapan manajemen
  • bantuan manajeman dan teknik
  • frofit lebih tonggi
  • perlindungan wilayah
  • memperoleh manfaat market research dan product development
  • resiko gagal kecil
  • franchisor memberikan banyak bantuan, kepada franchisee.

Kerugian-kerugian franchising :

  • program latihan franchisor terkadang jauh dari harapan
  • franchisor hanya sedikit memberikan kebebasan

Biaya waralaba Biaya waralaba meliputi:

  • Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI.
  • Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan.

4

Kontrak manajenen

Salah satu bagi perusahaan untuk melakukan expansi atau perluasan usahanya keluar negeri damat dilakukan dengan cara melakukan kontrak manajemen , dimana kontrak manajemen dapat dilakukan jika suatu perusahaan menyewakan keahlian atau pengetahuannya kepada pemerintah atau perusahaan uar negeri dalam bentuk sumberdaya manusia. Orang atau pekerja tersebut datang kepada pemerintah atau perusahaan dan mengelola kepentingan mereka. Metode ini sering dilakukan bila terdapat pemasangan fasilitas baru, baik nasionalisasi yang dilakukan pemerintah terhadap badan usaha yang dahulunya dimiliki oleh asing atau swasta, atau bagi perusahaan yang sedang berada dalam kesulitan.

Kontrak manajemen sering dijumpai juga dalam oparasi trun key, dimana perusahaan memberikan jasa penangan seluruh fasiitas baru, termasuk desain, konstruksi, dan pengoprasiannya. Masalah yang serng dihadapi dalam operasi ini adalah lamanya waktu kontrak, yang mengakibatkan panjangnya jadwal pembayaran dan menimbulkan resiko yang lebih besar dipasar mata uang, dimana dalam waktu yang panjang tersebut keadaan pasar uang tidak selalu satabil dan lebih cenderung fluktuatif, sehingga resiko keuangan akan semakin besar. Persaingan dalam usaha ini yang semakin lama semakin meningkat dengan semakin menigkatnya kapasitas luar negeri dengan adanya fasilitas baru.

 

Perkembangan Franchising Di Indonesia

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar mengatakan minat perguruan tinggi untuk membuat mata ajaran waralaba makin bertambah, menyusul maraknya pertumbuhan usaha dengan sistemfranchise di dalam negeri.

Anang meyakini minat perguruan tinggi untuk membuat mata ajaran waralaba tersebut sekaligus akan ikut mendorong upaya pemerintah dalam menciptakan wirausahawan diIndonesia.

“Dengan disusunnya program waralaba di perguruan tinggi berarti para mahasiswa dididik untuk berwirausaha karena kepada mereka diperkenalkan cara berbisnis,” kata Anang hari ini.

Anang mengatakan biasanya kalangan perguruan tinggi memberikan mata ajaran waralaba untuk mahasiswa yang bernaung di bawah fakultas ekonomi, atau anak didik yang mendalami ilmu perhotelan serta restoran.

5

Menurut Anang, kebijakan perguruan tinggi tersebut sejalan dengan perkembangan usaha terkini mengingat saat ini sudah banyak usaha perhotelan, terutama restoran, yang melakukan ekspansi dengan cara waralaba.

“Bisnis dengan waralaba tersebut juga butuh tenaga manajemen yang mengerti tentang franchise serta cara melakukan promosinya,” kata Anang.

Untuk itu, AFI juga telah melakukan kerja sama dengan Universitas Petra Surabaya. Peran AFI di sini adalah menyusun program ajaran serta menyediakan tenaga pengajar atau nara sumber yang akan mendidik para mahasiswa di universitas tersebut. Menurut dia, lembaga pendidikan lainnya yang telah membuat mata ajaran waralaba seperti Prasetiya Mulya juga telah menyatakan minatnya untuk melakukan hal sama.

“Kami mengharapkan tidak hanya swasta yang makin berminat untuk memberikan pendidikan waralaba, tapi juga dari kalangan pemerintah [diharapkan juga menggenjot pendidikan tersebut],” kata Anang.

Seperti diketahui AFI mencatat di dalam negeri saat ini telah beroperasi sekitar 1.000 waralaba lokal dan lebih dari 200 merek waralaba asing. Jumlah itu, terutama untuk waralaba lokal, diduga akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya minat masyarakat yang semakin tinggi untuk berinvestasi di usaha yang dijalankan dengan sistem waralaba.

Untuk waralaba lokal, tambahnya, yang banyak tumbuh saat ini adalah jenis usaha restoran, terutama yang menawarkan makanan etnik atau menu daerah yang sudah dikenal masyarakat di wilayah lainnya, seperti masakan dari Jawa tengah, Manado dan Jawa Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

 

Kesimpulan

Waralaba merupakan suatu sistem pemasaran yang sangat efektif untuk mengembangkan suatu bisnis, terutama bagi pengusaha yang baru memulai bisnisnya dan belum berpengalaman. Bila diadopsi dengan baik maka waralaba akan memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi penerima waralaba, tetapi bila tidak diadopsi dengan baik maka akan mengalami kegagalan.
g. Saran : Suksesnya bisnis waralaba tergantung dari cara pengadopsiannya. Jika diadopsi dengan baik maka rata-rata bisnis waralaba akan sukses. Tetapi seperti halnya sistem pemasaran lainnya, waralaba bukanlah sistem yang tidak pernah gagal. Ditengah keberhasilan waralaba, kegagalan waralaba juga tidak sedikit. Untuk itu perlu diperhatikan, kegagalan dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti isi perjanjian kontrak kerjasama. Pembeli waralaba juga harus yakin bahwa waralaba yang dibelinya mempunyai merk yang terkenal yang dikenal oleh masyarakat / konsumen.

 

 

 

 

 

 

7

Referensi

www.google.com

Buku panduan Pengantar Bisnis

http://icanjelek.blogspot.com/2009/04/waralaba.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8